Selasa, 07 April 2015

PENGALAMAN MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERMAKNA



PENGALAMAN MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERMAKNA

Oleh :
Novi Lestariningsih, S.Pd.
NIP 14712251060


Refleksi Pertemuan Ke-3
Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar (Rabu, 4 Maret 2015)
Dosen Pengampu Prof. Dr. Marsigit, M. A.

Ilmu adalah salah satu hal yang paling penting dalam kehidupan ini. Dalam melakukan hal apapun, dibutuhkan sebuah ilmu. Tanpa ilmu, seseorang bagai pengembara yang kehilangan arah sehingga tak tahu dia akan pergi kemana. Dengan ilmu, menjadikannya hidup lebih bermakna, bahagia, dan tidak gelisah ketika menghadapi sebuah masalah. Bahkan, karena sangat pentingnya ilmu ini, Allah berjanji akan memberi derajat yang tinggi bagi orang-orang yang berilmu. Allah juga berjanji, akan memberi kemudahan bagi orang-orang yang sedang mencari ilmu.
Pada kegiatan perkuliahan “Learning Trajectory” ketiga ini, Prof. Dr. Marsigit, M.A menyampaikan materi perkuliahan tentang cabang-cabang ilmu filsafat. Berdasarkan objek kajian filsafat secara luas, filsafat dibagi dalam beberapa cabang, yakni:
1.      Metafisika, yaitu dibagi menjadi:
a.       Ontology
b.      Kosmologi
c.       Humanologi
d.      Teologi
2.      Epistemologi
3.      Logika
4.      Aksiologi, terbagi menjadi dua, yaitu:
a.       Etika
b.      Estetika
 Metafisika merupakan cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajariasal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya)  pengetahuan. Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada.

Pada kuliah Learning Trajectory Pendidikan Dasar yang disampaikan oleh Prof. Marsigit, M. A.  dijelaskan beberapa istilah-istilah yang berkaitan dengan ilmu. Misalnya, ilmu yang kebenarannya ada di dalam pikiran disebut liberalisme, ilmu yang ada di luar pikiran disebut realisme, ilmu yang kebenarannya bersifat konsistensi disebut koherentisme, ilmu yang berdasarkan logika disebut logisisme, ilmu yang berdasar dari pengalaman disebut, empirism, ilmu berdasarkan sejarahnya disebut hegelianisme (tokohnya bernama Hegel, setiap apapun yang lahir di dunia ini pasti ada sejarahnya, tidak tiba-tiba muncul, bahkan batu sekalipun), ilmu dikarenakan kebajikannya disebut filsafat, ilmu berdasarkan pada ketentuan disebut analitik, ilmu yang dikarenakan sebabnya disebut sintetik (karena pada setiap unsur ada sebab akibatnya), ilmu yang kebenarannya mendahului peristiwanya disebut apriori (peristiwa yang belum terjadi tetapi sudah benar, misalnya, sekrang hari Rabu, maka minggu depan pasti akan bertemu dengan hari Rabu lagi), ilmu yang kebenarannya mengikuti peristiwanya disebut aposteriori (ilmu ini cocok untuk anak kecil, karena anak-anak akan melihat bendanya terlebih dahulu, baru akan memikirkannya).
Ilmu yang ada itu langit, dan ilmu yang mungkin ada itu bumi. Sebenar-benarnya ilmu yang tidak berubah (tetap) adalah Firman Tuhan. Antara ilmu yang ada dan ilmu yang mungkin ada lahirlah ilmu yang menjadi jembatan dari kedua ilmu yang disebut Sintetik Apriori dan tokohnya bernama Immanuel Kant. Menurut Imanuel Kant, untuk menjadi ilmu pengetahuan maka harus ada pengalaman dan logika, harus Sintetik dan Apriori, sehingga apabila hanya Sintetik-Aposteriori maka tidak akan mampu tidak memperoleh apa-apa. Dengan demikian, ilmu itu harus Amaliah dan Ilmiah.
 
Dari bagan diatas dapat dikemukakan bahwa sintetik apriori merupakan gantungan dari sesuatu yang ada dan mungkin ada, oleh karena itu, sintetik apriori yang dianggap paling tepat digunakan. Landasan ilmu pengetahuan yang plaing tinggi adalah spiritual, disusun kemudian landasan normatif, formal, dan yang terakhir adalah materi. Berbeda dengan august comte, dengan pemikiran filsafat positivisme. Dalam teori August Comte, segala sesuatu hanya berdasar pada logika saja, hanya berdasarkan hasil riset ilmiah saja, hanya yang tampak dan terlihat saja, sehingga mengabaikan aspek spiritual bahkan aspek spiritual adalah landasan paling bawah dalam pemikiran august comte. Pemikiran inilah yang bisa menyebabkan kehancuran sebuah bangsa.

Tidak ada komentar: